Berdamai Dengan Ombak - KPKers Lampung

Berdamai Dengan Ombak

Dokumentasi Pribadi


Gemercik suara air menghempas bebatuan hitam yang berjajar rapi di bibir pantai. Hembusan angin menerpa dedaunan kering yang telah lepas dari dahannya. Hangatnya sinar mentari yang kini beranjak pergi dari pandangan mata. Sore itu, gadis kecil berambut merah juga kulit sawo matangnya duduk termenung dengan tatapan kosong. Hanya ditemani tas ransel kecil bergambar Barbie yang penuh dengan tambalan kain itu selalu ada di punggungnya. Berisi alat tulis yang sudah usang, tumpukan kertas yang tidak lagi terlihat putih dengan sampul lapuknya. Aisyah, nama gadis kecil dari pinggiran pantai itu.
Ia tinggal bersama kakeknya yang setiap hari bekerja sebagai nelayan. Gubuk tua yang berdiri tidak jauh dari pantai itu, telah menjadi saksi bisu kehidupan mereka. Bukan hanya dingin karena angin pantai, bahkan air hujanpun jua selalu membasahi lantai tanah mereka. Genteng yang mulai rapuh itu menjadi penutup atap gubuknya, dinding yang terbuat dari rangkaian bambu juga menjadi pelindung. Sudah hampir tiga tahun belakangan ini ia tidak lagi mengenyam pendidikan formal, hanya saja di sela-sela kesibukannya membantu pekerjaan sang kakek, ia selalu luangkan waktu untuk belajar baik itu membaca, menulis ataupun menghitung. Waktu bermainnya juga dihabiskan di atas perahu kayu yang setiap harinya menjadi kendaraan kesukaan Aisyah.
Bongkahan batu besar yang menjadi tempat duduknya sekarang ini bak kursi busa yang empuk, menjadi tempat ternyaman ketiga setelah gubuk dan perahu kayu milik kakeknya itu. Ada aktivitas lain yang sudah ia lakukan sejak berusia lima tahun. Yah! Sejak hari di mana kedua malaikat tak bersayapnya pergi ke Surga. Kejadian terseretnya kedua orang tua Aisyah oleh ombak kala itu menyisakan luka di hati. Tepat di batu besar itu jua terakhir melihat kedua orang tuanya, melihat mereka digulung oleh ombak dan ia hanya mampu melihat, menangis sambil menjerit tak tahu apa yang harus dilakukan untuk dapat menyelamatkan ayah dan ibundanya, bahkan jasadnya pun tak jua diketemukan hingga sekarang ini. Tetapi ia yakin dan selalu merasakan kehadiran kedua orang tuanya saat berada di sana.
“Ais ..., pulang, Nak! Hari sudah mulai petang.” Terdengar suara kakek dari balik pohon kelapa yang kini sedang membenahi peralatan untuk mencari ikan di perahu tuanya.
“Iya, Kek, Ais masih betah di sini. Nanti Ais pulang sendiri saja,” jawab Aisyah santai sambil memandangi suguhan Tuhan yang teramat indah di depan matanya.
Mendengar jawaban cucunya tersebut kakekpun pulang lebih dahulu, tak lupa ia meninggalkan pesan untuk tidak terlalu larut pulang ke gubuknya. Gadis kecil pinggir pantai ini memang kurang mengenyam pendidikan seperti halnya anak-anak di luaran sana. Ia pernah menempuh pendidikan tingkat dasar, hanya selama empat tahun. Biaya pendidikan yang tidak murah membuat Aisyah terpaksa berhenti sekolah dan memilih membantu sang kakek mengais rejeki dari mencari ikan. Meskipun hanya empat tahun, tetapi Ais sudah pandai untuk perihal membaca, menulis dan berhitung. Bahkan hobi sejak kecilnya ialah membaca dan menulis. Tangan mungilnya itu berusaha dilatih untuk lihai mengerjakan apapun, termasuk bekerja dan menulis.
Ais bahkan tidak punya teman sebaya yang bisa diajak bermain. Bukan karena ia tidak dapat berteman dengan anak-anak lainnya, tetapi karena kegiatan tersebutlah membuat ia bisa menghabiskan waktu bersama kakek yang menjadi satu-satunya keluarga yang dimiliki. Ais lebih bersahabat dengan lingkungannya, lingkungan yang telah menjadikan ia pribadi yang tegar seperti sekarang ini.
Cahaya semakin meredup. Ais pun membuka tas ransel lalu mengambil secarik kertas dan pensil pendeknya. Kembali ia merangkai kata demi kata, bercerita dengan kertas yang ada di tangannya tentang apa yang dialami hari ini. Tak lupa, ia tuliskan harapan dan doa untuk hari esok ditemani deburan ombak dan hangatnya sinar mentari. Ia dahulu bahkan sempat merasakan benci terhadap ombak dan suasana pantai yang menyakitinya itu, tapi berusaha memahami dari berbagai kisah yang dialami sekarang ini. Takdir Tuhan-lah yang telah memisahkan ia dengan orang tuanya.
Seperti biasanya, setelah selesai menulis, kertas tadi dibentuk bunga. Jemari kekarnya itu dengan santai melipat-lipat selembar kertas dan jadilah setangkai bunga. Bukan untuk hiasan, tapi bunga kertas itu di persembahkan untuk kedua orang tuanya. Selalu ia letakkan di atas batu yang menjadi tempat terindahnya atau terkadang ia hanyutkan besama dengan ombak pantai yang selalu menyanyikan lagu indah untuk penghibur lara dan penatnya melalui hantaman tubuhnya di pasir maupun bebatuan.
“Ombak, sampaikan salam rindu untuk ayah dan ibundaku. Jika ia tidak lagi melihatku sekarang ini, katakanlah bahwa aku telah tumbuh menjadi gadis yang akan selalu kuat dan ceria seperti mereka,” ucapnya lirih sembari memainkan air yang ada di hadapannya dengan tangannya.
Sembari melepaskan kertas yang telah dibentuk menjadi bunga tadi, ia pun melanjutkan gumamannya, “Juga katakan pada ayah dan ibunda bahwa aku bahagia terlahir di keluarga seperti ini. Ayah dan ibunda yang selalu mengawasiku dari kejauhan, kakek yang selalu menjadi pahlawan terhebatku, juga ada kau, iya kau ombak. Terima kasih telah menemaniku setiap harinya, mendengarkan setiap cerita bahkan menampung air mataku dan aku bahagia karena tak lagi membencimu.”
Ais menjadi pecinta kata sejak kejadian itu dan ombaklah yang menjadi pembaca setiap apa yang ia torehkan di kertas kusamnya. Jua senjalah yang selalu setia menemani meskipun senja selalu beranjak pergi dengan keindahannya. Hari itu pun berakhir dengan tangis haru juga bahagia untuk kesekian kalinya. Ia mulai melangkahkan kaki, beranjak dari tempat persinggahannya. Menapaki pasir putih tanpa alas yang membungkus kakinya itu menuju istana kecil. Di sana ada sang kakek yang selalu menunggu kepulangan.



Lampung, 25 Juli 2018


Penulis : Siti Munawaroh
Editor : Irma Dewi Meilinda

Belum ada Komentar untuk "Berdamai Dengan Ombak"

Posting Komentar

ADS atas Artikel

ADS Tengah Artikel 1

ADS Tengah Artikel 2

ADS Bawah Artikel