Sahabatku Cintaku - KPKers Lampung

Sahabatku Cintaku

Image from google



Mentari mulai menghangatkan bumi, embun sudah membasahi dedaunan pagi ini. Sosok gadis remaja SMA bertubuh mungil sedang tersenyum sambil menatap ke depan seakan sedang menyambut indahnya hari ini. Putih Yulia Ananda atau sebut saja ia Putih, seorang gadis yang memiliki perangai ceria agak kekanak-kanakan namun pikirannya cukup untuk disebut dewasa dengan segala kekurangan pada dirinya.
Seperti biasa setiap Senin hingga Sabtu, Putih melangkahkan kakinya menuju perempatan jalan trans untuk mencari angkutan umum menuju ke SMA Negeri 4 Lampung Selatan, sudah lebih dari sebulan angkutan umum berwarna kuning langganannya tak menyusul hingga harus memaksa kakinya berlelah-lelah lagi dari rumah menuju perempatan jalan trans demi mencari angkutan umum untuk menuju sekolah.
“Akhirnya .... Ok, sekarang semua tergantung dengan keinginanku. Mau nunggu angkot kuning, apa cari travel aja ya ke sekolah? Semoga aja ada yang bisa diajak berangkat bareng,” celoteh Putih bergumam sendiri ketika sampai di perempatan jalan trans sambil menoleh kiri dan kanan karena hendak menyeberangi jalan.
“Mau berangkat sekolah ya, Nak?” Tiba-tiba ada seorang bapak tua yang mengagetkannya dengan sebuah pertanyaan.
“Iya, Pak,” jawab Putih agak gugup menampilkan deretan giginya sambil membenarkan kerudungnya yang sebenarnya sudah rapi sejak awal.
Putih memang sedikit pemalu dengan orang-orang baru, namun kadang malah Putih lah yang malu-maluin bila sudah kenal dekat dengan seseorang karena karakternya yang konyol dan agak kekanak-kanakan.
“Sekolah di mana memang? Kenapa nggak bawa motor sendiri aja?” tanya bapak tua itu kepada Putih.
“Anu, Pak, di SMA Negeri 4 Lampung Selatan,” jawab Putih singkat sambil senyum pepsodent.
“Oh, sudah SMA ternyata, saya kira kamu masih SMP,” jawab bapak tua itu membuat Putih sedikit jengkel.
“Saya nggak bisa bawa motor, Pak. Lagian ngapain bawa-bawa motor ke sekolah? Kan berat kalau motor dibawa-bawa. Nggak muat juga motornya kalau mau dimasukin di tas saya. Yang ada, nanti tas saya rusak dong, Pak,” jawab Putih panjang lebar dengan polosnya.
“Hadeh ..., bukan itu maksudnya!” ujar bapak tua itu kesal dengan kepolosan Putih.
“Nah, terus apa dong?” ujar Putih malah balik bertanya kepada bapak tua itu.
“Hih, maksudnya tuh ...!” ujar bapak tua itu terpotong dengan nada kesal.
“Apa, Pak? Kenapa? Bagaimana? Ada apa? Siapa? Apanya? Dimana? Yang mana?” tanya Putih beruntun dengan ekspresi watados yang semakin membuat bapak tua itu kesal.
“Aah! Udah, berangkat sekolah sana!” ujar bapak tua itu kepada Putih.
“Yeah! Ditanya, kok malah marah? Aneh!” ujar Putih yang ikut kesal.
Putih yang melihat keadaan jalan yang lengang segera bergegas menyeberangi jalan, tak berapa lama datang motor matic Mio berwarna Putih dari arah berlawanan menghampiri Putih.
“Hmm, kayak kenal itu siapa!” gumam Putih yang memperhatikan orang dengan seragam sekolah yang sama dengannya kini sudah ada di depannya.
“Yuk, berangkat sekolah bareng!” ajak orang ini kepada Putih yang masih diam memperhatikannya.
Orang itu kemudian membuka helmnya, dan betapa terkejutnya Putih ternyata orang itu adalah Fajri Putra Fananda murid XII IPS 6.
“Eeh kamu, tumben ke arah sini? Mau ngapain? Mau ke mana?” tanya Putih beruntun dan masih tak menyangka itu adalah orang yang selalu ia sebut namanya di atas sajadah ketika selesai salat. Putih menunduk sambil tersenyum tipis karena tak mau beradu tatap dengan Fajri yang selalu membuat dirinya salah tingkah.
“Aku ke sini cuma mau nyusul kamu aja. Mau berangkat sekolah bareng!” jawab Fajri yang langsung membuat raut wajah Putih ceria dan masih tak menyangka dengan kalimat yang barusan dilontarkan Fajri padanya.
“Oh, ok!” ujar Putih, tanpa menunggu lama Putih langsung menaiki motor Fajri, dan mereka pun melesat kencang menuju sekolah.
‘Ya Allah, mimpi apa aku semalam sehingga engkau mempertemukan aku dengan pangeran es kutub utara yang selalu aku sebut dalam doa?!’ batin Putih di atas motor Fajri yang terus melaju. Posisi Putih dan Fajri amatlah dekat saat ini. Putih menghirup aroma parfum pada tubuh Fajri dengan sangat dalam, sampai membuat jantungnya tak dapat berhenti berlari. Tak terasa mereka pun akhirnya sampai di sekolah.
“Ma kasih, ya, Jri!” ujar Putih sembari menuruni motor. Fajri hanya mengangguk sambil tersenyum manis kepada Putih yang kembali membuat jantungnya memburu.

***

Fajri dan Putih sudah bersahabat dari kelas X, dan sebenarnya Putih sudah memiliki perasaan kepada Fajri dari awal mereka memulai persahabatan itu. Sampai detik ini, Fajri belum mengetahui perasaan Putih terhadap dirinya, padahal sebenarnya Fajri juga memiliki perasaan yang sama kepada Putih tapi karakter Fajri yang cuek, dingin, dan memiliki ego yang tinggilah yang mampu menutupi perasaan itu. Sialnya lagi Fajri dan Putih adalah tipe orang yang sama-sama kurang peka terhadap yang menyangkut tentang perasaan.
Selain bersahabat dengan Fajri, Putih juga memiliki sahabat lain yaitu Dea Fitriani siswi kelas XII IPA 4. Dea juga menyimpan perasaan kepada Fajri, ia selalu menceritakan kekagumannya terhadap Fajri kepada Putih. Putih yang tak mau persahabatannya hancur cuma gara-gara ego dan perasaan akhirnya hanya bisa memendam perih ketika mendengar kabar kedekatan Dea dan Fajri yang katanya semakin hari semakin dekat. Putih selalu nampak seakan semuanya baik-baik saja ketika mendengar curhatan Dea yang tak jauh-jauh pembicaraannya soal Fajri, hanya bisa menutupi hatinya yang tersayat dengan candaannya kepada Dea.
Bel pulang berbunyi, Putih yang sedang melangkah sendirian meninggalkan kelas tiba-tiba menghentikan langkahnya, lantaran ada yang tiba-tiba menarik tangannya. Putih yang merasa ditahan oleh seseorang menoleh, ternyata yang menahan langkahnya adalah Dea. Dea menatap Putih seakan menyuruhnya untuk mengikuti langkahnya, Putih yang mengerti akhirnya mengikuti langkah Dea yang ternyata menuju ke arah gudang. Sesampainya di gudang, tiga tamparan tanpa henti mendarat di pipi manis Putih meninggalkan bekas merah yang sangat jelas.
“Pengkhianat!” bentak Dea kepada Putih. Putih sudah meneteskan air mata sambil mendengarkan Dea yang mengoceh tentang kekecewaannya terhadap Putih.  Ternyata Dea sudah mengetahui kedekatan Putih dengan Fajri selama ini. Kejadian tadi pagi pun semakin membuat Dea terbakar emosi, hinaan demi hinaan terlontar dari bibir Dea kepada Putih yang sekarang air matanya semakin mengalir deras. Dea menjambak dan mendorong tubuh Putih yang mungil hingga ia terjatuh dan ... satu tamparan lagi mendarat di pipi Putih dengan sangat keras namun Putih tak melawan.
“Dasar jalang! Rasakan ini!” Dea sudah mengepalkan tangan dan hendak mendaratkan tinjuan ke wajah Putih. Tapi tiba-tiba ada seseorang dari belakang yang menahan tangan Dea. Dea menoleh, betapa terkejutnya Dea, ternyata yang menahan tangannya adalah Fajri yang sudah melihat semua kelakuan keji Dea terhadap Putih. Fajri menatap Dea penuh amarah.
“Fajri, a-aku bisa jelasin se-semua ini kok,” ucap Dea agak terbata-bata.
“Jelasin apa lagi?!” bentak Fajri kepada Dea, membuat Dea meneteskan air mata.
“Gue udah liat semua kejadiannya! Nggak ada yang perlu Lu jelasin ke gua lagi!” Amarah fajri ikut meledak.
“Aku sayang sama kamu, Fajri!” teriak dea sambil bercucuran air mata.
“Gue benci sama Lu!! Dan gua nggak rela, Lu nyakitin orang yang gua cinta!” bentak Fajri di telinga Dea—membuat mata Dea dan Putih terbelalak tak percaya mendengar ucapan itu. Bak petir di siang hari, hati dan perasaan Dea seperti tersayat-sayat oleh ucapan yang dilontarkan Fajri. Dea segera melepaskan cengkraman tangan Fajri yang masih menahan tangannya agar tak mendaratkan tinjuan ke wajah Putih. Setelah itu, Dea yang bercucuran air mata menghampiri Putih dan segera menendang dada Putih dengan kuat, kemudian segera berlari meninggalkan Fajri dan Putih di gudang sekolah. Fajri geram dan hendak mengejar Dea, tapi langkahnya terhenti.
“Fa-Fajri ...,” lirih Putih terbata-bata dan sudah terkapar tak sadarkan diri. Fajri yang panik melihat keadaan Putih segera menggendong Putih ke ruang UKS, untunglah Fajri dan Putih sama-sama mengikuti ekskul PMR di sekolah ini sehingga Fajri dapat menangani Putih yang sudah tidak sadarkan diri dengan sangat telaten.

***

Satu jam lebih telah berlalu namun Putih tak kunjung sadarkan diri, Fajri sudah sangat khawatir dengan keadaan Putih. Fajri terus menggenggam tangan Putih dengan erat dan menciumi punggung tangan Putih sambil memejamkan matanya, berharap Putih segera sadar. Tanpa disadari, bulir air mata Fajri ikut berjatuhan dan mengenai kulit Putih, membuat Putih tiba-tiba tersadar dan perlahan mulai membuka mata.
“Fajri, jangan sedih. Aku baik-baik aja,” ujar Putih tiba-tiba mengagetkan Fajri. Putih segera menghapus air mata di wajah Fajri dengan tangannya kemudian ia tersenyum.
“Loh, kamu udah sadar, Put?” tanya Fajri masih tak percaya sambil membantu mendudukan Putih diranjang UKS. Putih hanya tersenyum memandangi Fajri, Fajri ikut tersenyum.
“Ini, minum dulu,” ujar Fajri menyodorkan segelas teh hangat kepada Putih, Putih segera menerima dan meneguk sampai habis teh pemberian Fajri. Setelah meneguk habis teh hangat tersebut, Putih meletakan gelas kosong itu ke nakas.
Tak sengaja, manik mata Putih bertemu dengan manik mata Fajri, mereka saling beradu tatap. Keadaan menjadi hening beberapa detik, kemudian Putih tiba-tiba mendapat pelukan hangat dari Fajri, Putih membalas pelukan itu tak kalah erat, dan ... alarm berbunyi sangat keras membangunkan Putih dari mimpi indahnya.
“Yah, ternyata cuma mimpi. Ngapain sih, harus bunyi? Kan kebangun, jadinya. Ngeselin!” cibir Putih yang kecewa karena semua kejadian indah itu ternyata hanyalah bunga tidur yang menghiasi mimpinya.
Putih tersenyum mengingat-ngingat mimpi indah itu, dia merasa lucu dengan dirinya yang nyatanya sampai saat ini hanya bisa mengagumi Fajri diam-diam dan selalu menyelipkan nama Fajri di setiap doanya. Putih bergegas mandi kemudian sarapan dan berangkat sekolah, semua memang hanya terjadi dalam mimpinya yang terlalu indah. Tapi ia bersyukur sudah pernah memeluk dan mendengar kalimat-kalimat cinta dari Fajri, meskipun itu hanya di dalam mimpi.


Lampung, 23 Juli 2018


Penulis : Wind
Editor : Irma Dewi Meilinda

Belum ada Komentar untuk "Sahabatku Cintaku"

Posting Komentar

ADS atas Artikel

ADS Tengah Artikel 1

ADS Tengah Artikel 2

ADS Bawah Artikel